Tampilkan postingan dengan label serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serius. Tampilkan semua postingan

Dalam sudut pandang gue, hidup ini terbatas di apa yang ingin kita dapatkan kemudian berdampak kepada apa yang akan kita alami.
Misal, gue ingin menjadi seorang presiden tentu jalan yang akan gue tempuh untuk mencapainya akan berbeda dengan gue yang ingin menjadi pedagang somay. Gue perlu melewati masa-masa kampanye dimana asal-usul gue diungkap ke permukaan, semua kejelekan gue dibahas di publik, kebaikan gue dipertimbangkan, dan lain-lain dan lain-lain.

Ya begitulah hidup. Penuh dengan kumpulan keputusan serta kumpulan rasa ketika melewati fase-fase tertentu. Fase-fase yang gue maksud adalah fase umur. Di tulisan gue kali ini, gue akan sedikit membahas tentang fase tidak enak hidup yang akan kita alami. Blog ini bukan blog pengetahuan umum, blog ini berisi usulan saran untuk menjalani kehidupan, bagi gue usulan-usulan itu sampai sekarang cukup worth it untuk dilakukan. Setiap tahun diameter senyum gue bertambah 0.00001 milimeter. Jadi tidak perlu pembuktian secara science kan?

Salah atau benar soal prinsip hidup itu hanya persepsi, menurut gue. Rasa yang dilewati satu orang saat menjalani suatu kehidupan akan menjadi beda rasanya jika dilakukan oleh orang lain. Itulah kenapa cara hidup tidak bisa ikut-ikut, tidak bisa menjiplak seperti mengerjakan hal teknis, setiap orang memiliki cita rasa masing-masing dan tentu hasil akhirnya berbeda-beda di usia senja nanti. Seberapa tegas cara hidup seseorang menunjukkan seberapa tebal dia sudah menemukan jati dirinya. Tapi barangkali saudara seumat tidak ada ide bagaimana cara menjalani kehidupan, bolehlah membaca blog ini sampai selesai, kali aja menemukan sesuatu.

Oke balik lagi ke fase karena tadi hanya kumpulan kalimat tak bermakna. Fase tidak enak dalam hidup adalah ketika memasuki usia 20 tahun sampai 30 tahunan. Mengapa?

Ingat tulisan soal passion yang gue tulis entah zaman kapan? Ya, passion hanyalah omong kosong atas ketidakmampuan dan ketidakmauan seseorang untuk mempelajari sesuatu, karena faktanya saat gue, katakanlah, bisa lancar melakukan sesuatu barulah gue senang melakukannya. Nggak mungkin gue memiliki passion di futsal ketika bermain futsal saja tidak bisa. Lalu orang-orang menciptakan istilah temukan passionmu untuk mencoba segala hal, yang menghabiskan waktu, yang mana kita harus mencoba satu demi satu untuk menemukan sesuatu kita rasa mudah untuk dilakukan lalu kita menjadi senang melakukannya.

Nah, fase 20-30 ini adalah saat seseorang harus benar-benar memilih satu hal minimal untuk dia jadikan fokus di hidup dia. Benar-benar harus memilih. Kembali lagi menjadi hanya sebuah persepsi, apakah seseorang akan memilih "temukan passionmu" dengan mencoba satu demi satu hal setelah lulus kuliah hingga menemukan satu hal yang ia sukai dan dirasa nyaman atau melamar satu jenis hal untuk kemudian ditekuni apapun kesulitannya tanpa ada rasa suka sebelumnya.

Iya, seseorang dituntut menguasai satu hal minimal sebagai modal menjalani fase kehidupan selanjutnya, padahal di masa-masa ini adalah masa dimana publik akan mulai melakukan tekanan mental soal masa depan kita.

"Oh teman gue yang itu sudah menikah."
"Oalah si A sudah bekerja menjadi pemasok senjata bagi teroris."
"Hmmm si B sudah menjadi traveller dan sepertinya enjoy dengan kerjaan itu."
"Kapan menikah?"
"Calonnya siapa nih?"
"Kerjaan kamu apa?"
"Penghasilan kamu berapa?"


Ya, semua tekanan itu tak jauh-jauh soal duit dan jodoh. Sementara kita sekarang, masih berkutat dengan pilihan apakah kita mengikuti mainstream "temukan passionmu" lalu menghabiskan waktu untuk mencoba satu demi satu hal atau memilih prinsip untuk melamar satu hal dan kita tekuni itu sampai nanti. Entah itu mencari atau melamar, hal itu tuh apa?

Di masa depan akan seperti apa?

Berguna untuk kehidupan tidak?


Membantu banyak orang tidak?

Menjawab ekspektasi orang tua dan pacar tidak?

Menjawab eksprektasi publik tidak?

Membanggakan orang-orang di sekitar gue tidak?

Lalu gue benar-benar bisa bertahan (senang) pada hal itu tidak?


Pertanyaan-pertanyaan itu akan terus berputar di otak kita bersama sampai beberapa waktu ke depan. Lalu yang namanya stess akan mulai menghampiri ketika tekanan dan ekspektasi publik tidak bisa kita jawab dengan hasil kerja atau karya.
Rasa sakit saat gagal, rasa takut mengecewakan, rasa sedih dikecewakan, setiap malam hanya bengong membayangkan besok harus bagaimana, menangis, malu... mulai menjelma menjadi makanan sehari-hari.

Tidak enak kan? Ya makanya tadi gue bilang fase kehidupan ini tidak enak. Itu juga kalau dialami dalam kondisi ideal dalam artian lo punya pacar yang menemani, orang tua dukung lo dengan penuh kasih sayang. Bagaimana dengan yang jomblo dan kondisi lain-lainnya tidak ideal?

Satu hal yang ingin gue bilang, itu semua hal yang biasa terjadi. Biasa. Semua orang akan mengalami. Mau tidak mau. Dia hanya akan memilih ingin bersungguh-sungguh di fase ini atau tidak, benar-benar mengalami luka dan sakit itu tidak.

Pilihan apapun yang dipilih, hidup akan terus berjalan. Dan kita akan tiba di fase selanjutnya, fase dewasa dimana kita akan menikmati hasil apapun yang kita kerjakan di fase 20-30 ini.
Baca kalimat pertama di post ini, Jika dibalik, apa yang kita alami dan kerjakan di masa sekarang akan menjadi batasan terhadap apa yang kita dapatkan di masa depan. Mau kita stess, mau kita berhasil, mau kita berlama-lama dalam kegagalan, mau kita diam saja, mau kita berpikir untuk mencoba hal baru.... Fase selanjutnya akan datang, hidup terus berjalan.

So?

Gagal?

Menangis?

Malu?

Jalani saja, yang penting tidak sampai frustasi dan melakukan hal-hal bodoh seperti bunuh diri atau melakukan eksperimen untuk menjadi superhero. Jangan berlama-lama di kegagalan, gagal ya sudah, berjalan lagi mencoba lagi sebelum fase selanjutnya tiba. Selagi masih bisa, coba saja terus karena hasil akhir di fase 20-30 adalah awal yang sangat menyenangkan atau mungkin saja sangat menyedihkan bagi fase selanjutnya.
Jadi jalani saja dan jangan berhenti. See ya!

Jangan Berhenti

Sumber
Kita sama-sama tahu bahwa dalam satu fase kehidupan tidak ada cara hidup yang benar-benar bisa dikatakan berhasil pun tak ada yang benar-benar bisa dikatakan gagal. Dunia akan tetap berjalan dengan cara apapun yang kita lakukan dan kita sebagai manusia akan tetap berusaha bertahan hidup semampunya.

Jadi, kalau pasangan lo bilang, "aku tak bisa hidup tanpamu" gue jamin dia berbohong. Coba saja tinggalkan, lalu lihat satu tahun kemudian, dia akan tetap sama saja, mengatakan, "aku tak bisa hidup tanpamu" kepada orang lain. Ya, sejatinya manusia waras memiliki naluri untuk bertahan hidup, sederhana kan?

Gue baru selesai KKL (Kuliah Kerja Lapangan), inti dari kegiatan tersebut adalah mengunjungi perusahaan IT, mendengarkan ceramah motivasi dan update mengenai garis haluan perusahaan itu, makan, tidur, menelpon pacar, mandi, naik bus. Dari 5 kunjungan perusahaan (Microsoft Indonesia, Indosat, IBM, Tokopedia, dan Gits) ada beberapa hal yang berkesan di pikiran gue.

Terkait cara hidup di atas yang gue bilang, hal itu spesifik ke dunia IT di masa depan. Ya, bahwa IBM bukan lagi perusahaan percetakan komputer, Microsoft tetap menjadi wadah bagi para developer, Tokopedia dan Gits yang terus merintits karir di dunia bisnis, serta Indosat yang ramah dan enak snack-nya.

Adalah kesimpulan bahwa dunia IT berputar lebih cepat dari siklus rantai makanan di Afrika memang benar sedang terjadi. Ya begitulah pokoknya, kalian baca data aja, bisa kan? Kini hidup tak sekedar melakukan rutinitas untuk bertahan hidup.
Lihat Gojek, memporakporandakan bisnis transportasi umum. Lihat Airbnb, mengusik bisnis penginapan. Lihat E-commerce, perlahan menutup lapak-lapak penjualan.

Kalau IT terus merusak model bisnis lama, apakah bekerja keras di model bisnis lama masih ada peluang berhasil?

Menurut pembicara Microsoft yang menyambut gue, hanya perlu menunggu waktu untuk instansi seperti bank tutup satu per satu. Ini hanya masalah regulasi.

Mari kita masuk ke intinya, gue akan menyampaikan usulan cara hidup sebagai anak IT terutama yang masih mahasiswa seperti gue berdasarkan kesimpulan dari hasil kunjungan-kunjungan di atas.

Satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk mengimbangi siklus cepat adalah bergerak lebih cepat. IT berputar cepat dan akan terus menghancurkan metode kehidupan barbar yang dibangun manusia zaman dulu. Ya, gue dan lo sama-sama tahu bahwa untuk bertahan di siklus itu adalah menjadi manusia yang dinamis juga.
To be honest, kehidupan kuliah IT (kalau lagi apes aja harus kuliah) hanya meningkatkan satu level derajat sosial. Dah, menurut gue hanya itu.

Pada akhirnya, materi yang dipelajari semester ke semester akan kadaluwarsa di masa depan. Pada akhirnya, teknik yang didalami semalam demi semalam akan ditinggalkan menuju teknik yang lebih baru di masa depan.

Orang yang kursus instalasi server kini harus kursus cloud computing. Orang yang lelah belajar java, c#, c++, atau apalah itu hanya bisa diam karna sudah tidak menjadi tren lagi. Orang yang cuma jago mengolah data kini berharga mahal dengan adanya tren data analyst.
See?

Dengan asumsi seperti itu, gue menyarankan untuk mulai menggunakan cara hidup baru. Makan yang banyak sampai gendut, lalu mati-matian menguruskan kembali.
Ya, yang harus diasah bukanlah skill khusus, tapi kondisi dimana lo mudah menerima dan mempelajari hal baru.
Yang diharapkan dari dunia IT adalah produk dan inovasi, bukan show-off kemampuan loh gengs.

Ada poin krusial lain selain harus pandai menerima dan mempelajari hal baru, yaps, memprediksi tren teknologi di masa depan. Memprediksi. Hanya itu.

Kemudian cara hidup yang insyaAllah akan membuatmu bahagia adalah prediksi tren masa depan, pelajari lebih awal hal itu, nikmati hidupmu bersama orang yang kamu cinta. Sederhana toh?

Kalau sekiranya sudah tertinggal dalam suatu tren ya sudah, tinggalkan saja bung, amati arah tren sekarang, pelajari lebih dulu tren yang akan datang. Jangan bodoh, jangan capek-capek mengejar ketertinggalan tren yang sudah berlangsung, karna kalau terus mengejar selamanya akan tertinggal. Gitu-gitu terus.

Lantas melatih kebiasaan itu bagaimana? Ya mudah, untuk mudah menerima dan belajar hal baru ya jangan hidup di kehidupan yang gitu-gitu terus, cari yang baru setiap harinya. Untuk memprediksi? ke toko buku lalu beli buku. See ya!

Pesan Kepada Mahasiswa IT

Sumber
Teknologi semakin canggih saja. Robot-robot mulai diciptakan. Pernah berpikir tidak, apakah robot akan mengambil alih dunia seperti yang ada di film-film? Mesin menjadi sangat pintar atau bahkan lebih pintar dari manusia kemudian memperbudak manusia?

Semua pertanyaan tadi, menurut gue, jawabannya terletak di kalimat, "Manusia memilik kesadaraan tentang keberadaan dirinya, mesin tidak.".
Kenapa robot/mesin tidak akan semenakutkan yang ada di film karena ya itu tadi, mungkin saja mereka pintar atau lebih pintar dari manusia di segi komputasi tapi mereka tidak sadar bahwa mereka itu ada. Manusia tak mampu menciptakan kesadaran buatan.

Terlepas itu, gue di sini ingin membicarakan tentang passion. Secara pengertian sederhana, passion berarti melakukan segala sesuatu tanpa lelah, dengan senang hati, tak peduli untung-rugi, dan membuat kita puas secara batin.

Kalau kata pembicara di seminar motivasi, menemukan passion berarti mencari apa yang kita sukai. Menurut gue, nggak semudah itu. Menemukan passion berarti harus menemukan dua hal, apa yang bung suka dan apa yang bung bisa. Ya, apa yang disukai tak cukup untuk menjadikan sesuatu menjadi passion. Harus bisa dong. Apa bisa gue bilang kalau passion gue itu mencari kutu di bulu kaki sapi hanya karena gue suka dengan hal itu? Nggak. Kalau gue suka tapi nggak bisa ya gue nggak akan mau melakukannya.

Artinya, mencari kutu di bulu kaki sapi bukan passion gue.

Suka dan bisa melakukan sesuatu itu hal yang sebenarnya tidak bisa dibangun sendiri-sendiri. Dua hal itu bukan sebuah urutan tapi ikatan sebab-akibat yang susah dijelaskan. Tapi gue akan berusaha membongkar rahasia dibalik suka dan bisa itu. Hehe.

Gini,
Gue suka main gitar tiga tahun terakhir, alasan utamanya karena gue bisa bermain gitar. Yaiya dong, menurut lo? Sementara itu, gue bisa bermain gitar awalnya karena gue tertarik dan mau belajar. Nah, artinya, tanpa gue tertarik dan belajar, kalau dari lahir langsung bisa main gitar berarti gue akan langsung suka main gitar.

Kalimat di atas menyebabkan gue mau main gitar seharian, tidak mengenal rasa lelah, tidak mengenal waktu, dan nggak peduli sama hal lain yang penting gue main gitar maka gue tenang.
Which is, bermain gitar menjadi salah satu passion gue.

Sesederhana itu.

Maka, gue bingung jika di luar sana, banyak manusia puber yang kebingungan soal passion untuk melakukan sesuatu. Lah, nggak perlu bingung, bung. Bung cukup cari tahu bisa melakukan apa, ya itu passion bung. Masa passion itu yang disukai doang? lah, mau suka juga kalau nggak bisa terus bagaimana? #berad

Lalu, izinkan gue, di sini sedikit memberi saran bagaimana menemukan passion. Eh jangan menemukan, kesannya passion setiap orang itu terbatas. Ulang ya.

Izinkan gue, di sini sedikit memberi saran bagaimana menciptakan passion.
Awali dengan ketertarikan akan sesuatu yang bung anggap keren. Misalnya, memotong kuku harimau.
Lalu coba saja belajar dasarnya. Rasakan kesan yang didapatkan dari memotong kuku harimau, kalau hal itu menerima bung maka bung akan menguasai teknik memotong kuku harimau dengan mudah. Itu saja.

Jika ternyata susah, berhenti, artinya memotong kuku harimau adalah bakal calon passion bung yang gugur dan sebaiknya jangan diteruskan.
Jika ternyata mudah, maka lanjutkan. Hasilkan karya-karya dari hal itu. Ornamen dari kuku harimau hingga menerima jasa ukir kuku harimau untuk mengikuti lomba fashion show.

Loh, artinya satu orang bisa memiliki lebih dari satu passion? Ya. Berapa jumlah passion yang dimiliki seseorang tergantung dari berapa banyak hal yang bisa dia kuasai.

Sebelum gue tutup, gue hanya ingin menggaris bawahi satu hal. Tertarik lalu belajar. Belajar sesuatu tak perlu tertarik, Titik.
Di sisi lain, otak manusia seperti apa yang selama ini gue yakini, tak sebodoh itu, manusia bisa mempelajari segala hal. Titik.

Sebagai penutup, gue cuma ingin ngomong bahwa tulisan di atas hanyalah tulisan nggak bermanfaat dan penuh kekosongan karena sejatinya passion itu hanya omong kosong atas ketidakmauan dan ketidakmampuan seseorang untuk mempelajari sesuatu yang baru, yang ia anggap sulit. Manusia bisa mempelajari segala hal. Lalu, seperti yang gue bilang di atas, hal yang kita bisa, maka kita akan suka melakukannya tanpa henti hingga menghasilkan karya dari hal itu yang dengan kata lain hal itu adalah passion kita. See ya!

Passion

Sumber
Jika memang benar reinkarnasi itu ada, saya masih berharap jiwa-jiwa Tony Sly yang telah melayang ke angkasa sana kembali turun dan masuk ke hati ini, sedikit saja. Loh, bung tak tahu Tony Sly itu siapa? Ya sama. Sama dengan saya sebelum kelas 1 SMP dulu. Sama. Masa bodoh dengan Tony Sly itu siapa.

Tapi coba saat bung sejenak tidak memiliki kegiatan yang mengasyikkan, buka browser bung lalu bajaklah lagu-lagu orang ini. Nama band dia adalah No Use For a Name, lagu-lagu yang akan saya sebutkan setelah kalimat ini, dengarkan lalu pahami benar-benar liriknya, jatuh cinta akan hinggap di diri bung-bung sekalian. Adalah International You Day, The Trumpet Player, The Dregs of Sobriety, There Will Be A Revenge, Let Me Down, dan mungkin bung bisa mendengarkan semua lagunya.

Apa hubungan judul post kali ini dengan Tony Sly? Tidak ada, seperti biasa, biar panjang.

Sebagai manusia yang aselole, membagi ilmu adalah suatu kewajiban. Maka, izinkan saya kali ini dengan jumawa membagi ilmu cara menjadi kaya.

Bismillah.

Jamaah Sumuurr-iyah yang dirahmati Gusti Allah,

untuk menjadi kaya, hal yang pertama dilakukan adalah melihat potensi. Potensi yang saya maksud adalah apa yang akan dilakukan dan kepada siapa akan dilakukan serta bagaimana melakukannya.
Sebagai pengikut Nabi Muhammad yang paling ganteng, tentu saya sangat menyarankan melakukan perniagaan. Jual beli. Entah dalam wujud barang ataupun jasa. Yang penting perniagaan.

Eh ini tulisan serius lho, jangan dikira saya cuma bisa bercanda terus-menerus, cuma bisa ngebacot soal prinsip-prinsip hidup yang elegan terus-menerus, cuma bisa membicarakan cinta terus-menerus.

Maka sudah jelas, sub-bab pertama dari potensi tadi adalah melakukan jual-beli. Sudah menjadi rahasia saya dan mantan bahwa keuntungan jual-beli didapatkan dari pembeli, artinya semakin banyak pembeli maka semakin banyak keuntungan yang didapatkan.

Maka, sub-bab kedua dari potensi tadi adalah pembeli yang banyak.

Terakhir, ini adalah zamannya internet, zamannya informasi maka saya pribadi menyarankan untuk bekerja secara informasi.

Kesimpulannya, untuk menjadi kaya harus menjual barang dengan pembeli yang banyak dengan teknologi. Sebentar, saya ini berusaha untuk tidak menjadi manusia ngehe yang hanya menjual teori umum. Pasti ada hal menarik di sini. Untuk itu, beginilah tutorialnya.

Pertama marilah berpikir cara mendapatkan pembeli yang banyak, jangan menjual produk yang sekali jual, artinya jangan menjual produk dimana produk itu adalah sumber penghasilan utama. Contoh, menjual buku, menjual minyak goreng, menjual mantan, atau dalam hal yang lebih spesifik tentang teknologi adalah menjual aplikasi (membuat aplikasi itu berbayar).
Demi Tuhan, lihat aplikasi yang sekarang beredar, semua gratis.

Lihat, dengan gratis dan layanan yang maksimal akan mendatangkan banyak pengguna. Banyak sekali. Pokoknya gratis. Biar banyak dulu penggunanya.

Selain itu, tak perlu saya jelaskan lagi bahwa populasi negara dunia kedua dan ketiga masih sangat banyak, artinya lebih banyak orang miskin dibanding orang kaya. Jangan pernah berpikir untuk kerja di perusahaan-perusahaan multinasional yang hanya melayani orang-orang kaya seperti Apple, Facebook, dan Google.

Berpikirlah untuk menciptakan sesuatu yang menyelesaikan kebanyakan orang di dunia ini dimana itu artinya masalah orang-orang miskin, yang sudah kenal internet, yang sudah mendapatkan akses teknologi meski sedikit di daerahnya. Maka senantiasa mereka akan menggunakan layanan yang bung bawakan. Lagi, ini mendatangkan banyak pengguna.
Katakanlah semua berjalan lancar, layanan yang bung bawakan mendapatkan sangat banyak pengguna. Maka yasudah, hanya tinggal menghitung hari bung akan menjadi orang kaya.

Yang harus dilakukan adalah menjual informasi dari pengguna yang banyak tadi. Sudah itu saja, informasi apapun. Apapun dijual kepada siapapun.
Yah mungkin itu saja tutorial menjadi kaya kali ini, apa? Tidak jelas? Lah kalo jelas mah saya sudah kaya sejak tahun lalu, elah gimana sih lo?! #emosi

Intinya adalah memberi sesuatu yang gratis dimana sesuatu itu menjawab kebutuhan banyak orang di dunia ini. Wallahualam.

Mungkin cukup sekian. Semoga rezeki mengalir sesuai kebutuhan kita semua. Amin. Wassalamualaikum. See ya!

Tutorial Jadi Kaya

Saya memang bukan termasuk orang yang mendukung bahwa IPK tinggi itu menjamin segalanya, akan tetapi bukan berarti saya menyarankan untuk tidak mencari IPK tinggi. Sekali lagi seperti yang sudah-sudah, menjadi pemenang di sistem buatan orang itu tidak ada salahnya, kan?

Tapi tenang saja, seperti biasanya saya akan berada di pihak yang melawan pendidikan formal.
Pernah tidak membaca kalimat semacam ini dari mulut seseorang bung,

"Kalau mereka yang IPK 4, mereka akan jadi engineer-engineer di perusahaan besar,
mereka yang IPK-nya 3, mereka akan jadi general manager di perusahaan-perusahaan besar,
mereka yang IPK-nya diantara 2,5 sampai 3, mereka akan jadi direktur di perusahaan-perusahaan besar,
mereka yang IPK-nya diantara 2 sampai 2,5 mereka akan jadi pemilik-pemilik perusahaan besar tadi,
kalau yang di DO, mereka akan jadi Bill Gates."

 Awalnya saya hanya menganggap itu kalimat yang tidak penting sampai di suatu momen, saya memperhatikan teman saya yang IPK-nya tinggi tampak gugup saat menghadapi situasi yang tidak bisa dia kendalikan.

Wow.

Mari kita runtut dari awal. Tidak perlu ada yang membela dan memungkiri bahwa sistem perkuliahan di Indonesia bahkan di kampus saya yang ngapunten nggih kata orang-orang bagus sekali itu adalah sangat tidak fair. Kuliah dilaksanakan selama beberapa minggu pertemuan, dosen memberikan buku referensi dan/atau presentasi materi.
Hanya sebagian kecil mahasiswa yang memperhatikan dosen saat mengajar, selebihnya tidur, main gadget, lalala yeyeye.

Mendekati ujian semua mahasiswa berbondong-bondong mengunduh dan mencari materi ujian. Beberapa hari sebelum ujian mereka belajar dengan keras. Ya, benar sekali, materi dalam setengah semester bisa selesai dalam satu hari saja.
Saat ujianpun sangat random, kalau memang materi yang dibaca pas ya bisa mengerjakan dan nilainya A, kalau tidak ya yowes jelas modar aja, bung.

***

Mari kita perhatikan rutinitas di atas. Ya, IPK yang muncul adalah hasil keberuntungan dan kesiapan semata. Baiklah, singkirkan keberuntungan karena beruntung adalah hal yang lain lagi.
Berarti satu-satunya penentu IPK adalah kesiapan seorang mahasiswa untuk mengikuti ujian mata kuliah tertentu. Titik.

Kesiapan.

Mahasiswa nilai A dan B cenderung siap. C D E cenderung tidak siap. Ini adalah poin dari tulisan ini.

***

Setelah lulus dari kampus, tahu kenapa mahasiswa C D E cenderung lebih sukses seperti yang dikatakan dosen-dosen kalian? Sebenarnya ini bukan masalah IPK atau apa. Karna jujur dengan data bahwa kebanyakan pengusaha dan pejabat itu IPK-nya jelek lalu muncul kesimpulan bahwa IPK tidak begitu penting juga terasa menyebalkan di telinga saya.
Mahasiswa C D E ini cenderung terbiasa tidak melakukan persiapan alias tidak tahu apa yang dia hadapi. Berbeda dengan mahasiswa A B yang selama kuliahnya selalu melakukan persiapan yang sudah ada (belajar, latihan soal, lalala yeye). 

Sayangnya, dunia nyata tidak menyediakan persiapan eksak seperti ujian tengah semester ataupun ujian akhir semester. Mahasiswa A B yang terbiasa memiliki persiapan kini tak mempunyai bahan untuk bersiap-siap, mereka mencari tahu ketika ingin melakukan sesuatu, mereka memikirkan segalanya, dan akibat serba tahu mereka jadi terlalu peduli dengan yang namanya risiko.
Mahasiswa C D E? Ra ngurusi, ndes! Maju-maju aja, kebiasaan tidak tahu apa yang akan dihadapi karena tidak pernah bersiap-siap ternyata cocok untuk hidup di dunia nyata. Pengetahuan yang sedikit membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan dalam melakukan sesuatu. 

Hasilnya? Ya, langkah yang dilakukan mahasiswa A B lebih sedikit daripada C D E karena mahasiswa A B terlalu memikirkan soal kegagalan yang mana tidak pernah mereka dapati semasa kuliah karena adanya materi untuk bersiap-siap tadi. Sebaliknya, mahasiswa C D E mah ra peduli! Maju terus! Ya, langkah yang dilakukan mahasiswa C D E jadi lebih banyak, hasilnya banyak kegagalan yang didapatkan dan kebetulan lagi, inilah dunia nyata, keberhasilan adalah satu dari beberapa baris kegagalan.

Sekarang, paham kenapa banyak mahasiswa C D E yang malah menjadi sukses di karirnya dibanding mahasiswa A B?
Tapi, bukan berarti mahasiswa A B tidak mudah berhasil juga ya, mereka yang cepat beradaptasi dari dunia yang serba banyak persiapan ke dunia yang tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari tentu memilik peluang yang sama dong.
Intinya adalah jangan terlalu banyak mikir, bung! See ya!

Pembelaan Untuk IPK Rendah

Sumber
Beberapa waktu yang lalu gue pulang ke Solo, gue berhenti di lampu lalu lintas karena memang sedang merah. Yaiyalah.
Nah ketika berhenti itu di samping gue ada kakek-nenek gitu boncengan pakai motor, bukan kuda. Gue perhatikan mereka.
Beberapa saat kemudian si nenek ini nepuk bahu si kakek untuk mengindikasikan bahwa dia haus dan ingin minum, lalu si kakek mengambilkan minum yang diletakkan di dashboard motor mereka. Minumlah si nenek lalu mengembalikan botol itu ke kakeknya.

Sweet.

Hijau deh lampunya. Jalan kan tuh. Karena namanya juga dika, gue akhirnya mengikuti mereka berdua sampai bosan. Pelan sekali jalannya. Tak apalah, hitung-hitung gue bisa bantu mereka kalau-kalau ada kejadian buruk di jalan. Sampai jauh gitu akhirnya gue mulai bosan. Haha.
Mereka belok dan gue lurus. Setelah itu gue berkhayal, enak pasti jadi kakek-nenek itu bisa hidup bersama sampai tua dan naik motor seromantis itu.

Rasa iri yang sama muncul saat gue melihat sosok-sosok seperti Alan Turing yang menjadi bapak komputer, Jokowi, Kaka Slank, Tony Sly, Cak Nun, dan sosok yang gue anggap keren lainnya. Entah kenapa mereka sangat beruntung menjadi sosok yang seperti itu sementara gue di sini, sedang apa coba gue sekarang ini selain buang-buang waktu di kampus dalam zona yang sangat nyaman dan sangat sering membuat lupa akan diri dan visi-misi.

Gue iri kepada mereka. Gue ingin menjadi seperti mereka. Pun kalian juga pastinya sama, punya sosok yang mana kalian ingin menjadi seperti mereka.
Tapi permasalahannya di sini adalah, gue ingin menjadi seperti mereka, apakah gue siap menjalani apa yang mereka lalui untuk sampai ke titik itu?
Bahkan menjadi seperti kakek-nenek yang gue perhatikan tadi? Siapa yang tidak mau? Tapi apa kita siap menjalani apa yang mereka jalani untuk sampai ke titik itu?

Kaka Slank, titik dia sekarang itu dilalui dengan narkoba, dunia yang sangat keras, konflik dengan banyak orang. Gue ingin menjadi seperti dia, gue siap nggak menjalani semua proses itu?

Kenyataannya banyak orang yang ingin sampai ke titik tertentu tapi tidak mau dan bahkan tidak tahu apa saja yang harus dilalui untuk mencapai titik itu.
Memang bisa menjadi Jokowi hanya dengan kuliah di jurusan dan kampus yang sama? Menjadi Walikota dan Gubernur untuk daerah yang sama?

Gue rasa sama sekali tidak. Yang membentuk Jokowi adalah apa yang beliau dapat, bukan apa yang beliau jabat. Pengalaman bukan seberapa banyak title dan jabatan, pengalaman adalah seberapa banyak yang dipelajari. Meski tetap saja jabatan memiliki bagian yang tidak sedikit untuk menyumbang pelajaran hidup.

Sosok-sosok pendobrak pintu nalar manuisa itu, kenapa mereka bisa ada ya, cuma itu yang gue pikirkan.
Setelah mikir dengan sedikit berusaha. Gue perhatikan setiap biografi orang-orang ini yang dijadikan film, mulai dari Jobs, Turing, Ir. Soekarno, dan yang lain. Hasilnya, gue menemukan bagaimana cara melewati proses yang juga mereka lewati.

Mereka percaya dengan apa yang sedang mereka lakukan. Mereka tetap maju bagaimanapun kondisi mereka, bagaimanapun respon lingkungan mereka, dan bagaimanapun kata orang lain.

Nabi Muhammad, saat Kanjeng Nabi kesayangan gue ini diragukan pada awalnya, diragukan oleh semua orang. Nyatanya, dia tetap yakin. Oke, memang agak curang karna beliau utusan Tuhan jadi mau nggak mau ya memang takdir akan terbentuk sebagai nyuwun sewu, keberhasilan berdakwah dan mendirikan Islam sampai seperti sekarang.

Alan Turing, di film yang tentu kalian juga sudah lihat, betapa teman-teman ilmuwan yang lain ragu untuk menciptakan mesin yang bisa melakukan deskripsi untuk kode-kore Jerman. Nyatanya dia yakin, dia berhasil. Meski setelah itu dia harus menjalani kehidupan pribadi yang berantakan dan berakhir kurang menyenangkan. Tetap saja, dia bapak komputer dunia. He's goddamn genius.

Steve Jobs, lihat di film yang kemarin baru rilis. Betapa om Stivi ini sangat meyakini apa yang dia sedang lakukan. Dia, meski dipecat dari Apple, dia tetap kalem aja mendirikan perusahaan lagi sampai berujung menjadi kompetitor Apple itu sendiri lalu masuk lagi sebagai CEO Apple yang paling kece sedunia. Itu hasil dari yakinnya dia.

Siapa lagi? Banyak, bung.

Jika disimpulkan, hanya ada dua hal yang menjadikan orang-orang hidupnya biasa saja dan tidak menghasilkan hal berarti:
  1. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lakukan.
  2. Dia tidak peraya dengan apa yang dia lakukan.
Maka beruntunglah kalian yang bisa melihat celah ini. Tidak perlu mengikut banyak seminar motivasi, kelas-kelas bisnis, atau semalaman menonton tutorial menjadi orang sukses. Goblok. Kita hanya perlu melewati proses yang setara dengan sosok-sosok itu, caranya melewati? Ya tinggal lewat.

Kemustahilan akan hilang setelah adanya campur tangan Tuhan, campur tangan Tuhan ada ketika Beliau berkehendak. kehendak Tuhan akan muncul jika kita mengeluarkan teriakan yang paling dalam dari hati yang muncul karna percaya. See ya!

Menjadi Seperti

Sumber
Setelah cukup lama melakukan pengamatan terhadap tata cara yang benar untuk membangkitkan hasrat tertawa orang lain, akhirnya gue beranikan diri untuk menulis ini. Meski nyawa taruhannya. #halah

Tulisan ini ditujukan untuk semua jomblo tanah air, lebih spesifik lagi adalah yang berjenis kelamin laki-laki supaya mereka bisa sedikit lebih unggul dari segi kualitas dan dapat bersaing dengan masyarakat regional ASEAN dalam rangka mencari jodoh. Percayalah, semakin sedikit jomblo semakin merdeka suatu negara.

Baiklah. Menjadi lucu. Hmm.

Seseorang, dalam hal ini ambil saja gue sebagai contoh, akan tertawa jika mendapati ada kejanggalan dalam sesuatu entah itu kejadian, perwujudan benda, ataupun sekedar tulisan dan/atau suara. Intinya adalah kejanggalan dari hal yang biasa terjadi. Ya, hal lucu adalah hal yang tidak lurus alias bengkok kayak ulet lagi mules.

Setelah kita semua paham penyebab terjadinya tawa, maka hal selanjutnya adalah menjalankan prosedur yang benar.

Prosedur tawa seseorang adalah:

  1. berawal dari titik pengetahuan/fakta yang sama
  2. aware dari orang yang dikenai lawakan
  3. penyampaian
  4. pembengkokan fakta
Ya mari kita perjelas. Seseorang akan tertawa jika dan hanya jika titik awal pengetahuan antara pelawak dan yang dikenai lawakan adalah sama. Tidak harus umum, yang penting sama. Jika memang titik awal pengetahuan kedua orang itu sudah sama, maka selanjutnya orang yang dikenai lawakan haruslah aware alias memperhatikan dengan baik.

Saat kedua syarat awal terpenuhi, maka langkah selanjutnya adalah menata dan mengorganisir muka si pelawak untuk menyampaikan titik bengkok dari fakta/pengetahuan yang awalnya sama tadi.

Jika muka di pelawak saat diam saja sudah menggelikan, tinggal melakukan penekanan suara di beberapa kata saja. Gue jamin, orang yang dikenai lawakan akan tertawa dengan syarat dia belum pernah mendengar jokes itu.

Nah, di atas tadi adalah penjelasan untuk menjadi lucu yang bukan komika. Yang bukan dilakukan saat stand up comedy. Yang biasanya dilakukan saat berkumpul dengan teman, gebetan, mantan gebetan, dan mantannya mantan gebetan.

Lalu bagaimana dengan komika? Perbedaan melawak saat menjadi komika adalah si komika harus menyamakan titik awal pengetahuan antara dia dengan penonton. Sisanya sama. Itulah kenapa alangkah lebih baik jika saat bercerita tentang setup(bahasa komika, setup itu semacam kalimat yang tidak lucu, yang nantinya akan dijadikan batu loncatan untuk kalimat yang lucu), bahan setup itu adalah sesuatu yang umum.

Sekali lagi, pendengar haruslah aware. Contoh saja Raditya Dika, kenapa dia selalu lucu saat tampil menjadi komika? Ya, karena penontonnya pasti aware dengan membawa segudang ekspektasi akan ada kelucuan dalam omongan Radit meski mereka tak tahu ada dimana letaknya. Dan benar saja, dengan kondisi penonton sudah aware, Radit bisa mengimbangi ekspektasi itu dengan memberikan titik awal pengetahuan yang umum dan ringan seperti cinta-cintaan lalu bisa menyampaikan punchline(bahasa komika lagi, sesuatu yang lucu) dengan ekspreksi dan penekanan suara yang baik.

Catatan nih ya, nggak akan ada tawa jika pelawak hanya bercerita tentang hal yang dia ketahui saja. Nggak akan ada tawa jika yang dikenai lawakan tidak memperhatikan. Nggak akan ada tawa jika jokes tidak disampaikan dengan suara dan ekspresi yang mendukung.

Maka, jika kita kembali ke tujuan tulisan ini dibentuk, wahai para jomblo... Mulailah belajar bercerita. Bagian aware tadi, gue rasa setiap gebetan akan memberikannya secara cuma-cuma. Lalu tinggal bung sekalian belajar mengubah tata letak aksesori di muka dan belajar memberi penekanan suara yang baik.

Katakanlah kalian berdua lagi makan di sebuah tempat makan. Mulailah bercerita sesuatu. Melawak tak melulu harus menyampaikan sebuah kalimat setup lalu sebuah kalimat punchline dimana tidak ada kesinambungan antara satu jokes dengan jokes yang lain. Tidak, kamu tidak sedang tampil dalam lomba membuat seekor musang tertawa. 
Kamu sedang bersama orang yang akan kau buat jatuh cinta kepadamu. Berceritalah suatu narasi yang panjang, sesuatu yang memilik titik awal dan titik akhir. Sisipi cerita itu dengan jokes-jokes sesuai prosedur di atas.

Susah ya? Iya memang susah, yang gampang itu jadi jomblo.

Itulah lucu. Lucu dalam definisi gue selama ini adalah berangkat dari titik yang sama, naik dan terus naik, lalu gue lemparkan orang-orang dari titik paling tinggi supaya mereka jatuh bebas dalam tawa.
Lucu bukan menghina kekurangan orang lain. Lucu bukan menertawakan keanehan yang tidak dapat dikendalikan dan tidak dikehandaki pihak manapun. Sekali lagi, lucu bukan menertawakan tapi tertawa bersama.

Maka, jadilah lucu tanpa menyakiti karena sesungguhnya lucu itu menyembuhkan, bung. See ya!

Menjadi Lucu

Sumber
Tanggal empat di tahun 2016!

"Saya mah kalau jadi orang nggak suka pamer.", kata orang yang sedang memamerkan dirinya bahwa dia tidak suka pamer.
Sudah beberapa kali saya terlibat dalam perbincangan dengan teman, tembok, hingga kadal dalam dimensi waktu dan tempat tertentu. Belum sempat saya meniatkan untuk tidak bercerita tentang diri saya eh mulut sudah monyong duluan. Eeq.

Sebenarnya terdapat keresahan dalam diri saya ini yang sulit disampaikan. Begini, "Saya tidak suka bercakap-cakap jika hanya membanggakan diri masing-masing, menceritakan kehidupan masing-masing, memberi pengertian tentang dirinya sendiri baik itu saya maupun lawan bicara saya, namun membicarakan orang lain sambil menertawakannya juga tidak baik. Lantas, saya harus diam saja begitu jika bertemu orang lain? Seperti pasangan baru jadian?". Loh, katanya sulit? Lewat tulisan, asal tahu saja, berkeluh kesah menjadi lebih mudah.

Nah, keresahan ini akhirnya melebar ke dalam ranah percintaan, percaya saya bahwa ketika anda bertemu dengan orang yang anda cinta dan berniat untuk membuatnya jatuh cinta kepada anda lebih dan lebih. Kalimat-kalimat di bawah ini adalah terlarang,

"Saya adalah orang yang..."
"Saya tidak suka ini.... itu..."
"Dulu, saya dan peliharaan saya mandi bersama..."
"Kalau saya sih maunya..."
"Sudah dua tahun, aku belum bisa apa-apa..." #Lhaiya jelas, usia dua tahun tidak menangis saja sudah bagus.
"Kamu tahu tidak? Di tempat asalku..."
"Gue sama sahabat gue sering beli es di pinggir jalan tol loh."

Persetan gitu lho. Siapa yang peduli?
Kenapa saya benci pembicaraan yang seperti itu? Karena menimbulkan kesenjangan dan yang paling jelas adalah menimbulkan perasaan "Njuk aku kudu piye, cuk?". Dari derajat ini, terlihat jelas bahwa manusia macam saya sangat ingin dikenal dan dimengerti. Jangan pernah melakukan hal seperti ini saat bersama lawan jenis lho, bosan. Itu saja.
Lantas bagaimana solusi untuk melampiaskan hasrat pamer dan ingin dimengerti ini? Bikin saja blog seperti ini, tulis semua tentang diri anda. Jadi, anda tidak perlu bikin polusi bagi orang lain tentang kehidupan anda yang tidak menarik itu. Sementara itu, hasrat pamer anda terpenuhi dan hanya orang yang ingin mengenal anda saja yang membaca.

Maka, dengan tujuan baik supaya pertemuan anda dengan doi berjalan lebih seru, tulisan ini lahir secara cool dari ufuk timur di awal tahun 2016.

Empat ide saja. Loh, kenapa kok tidak 100? Dikira saya jomblo? Pacar saya butuh belaian dan hembusan napas saya supaya tetap hidup, bung.

Membahas masa depan
Tentu, membahas masa depan adalah hal yang menyenangkan. Bisa saja, anda memulai dengan kalimat seperti ini,"Nanti 2039 kita udah punya anak berapa ya?". Otak pasangan anda akan langsung merespon dengan membayangkan masa depan. Dimulailah perjalanan waktu. Itu kalau lancar, kalau anda terlampau jelek untuk dinikahi, mungkin anda akan ditinggalkan tanpa salam perpisahan, atau hanya di-read.
Sambil minum kopi dan bermain gitar membawakan lagu, membayangkan kejadian di masa depan adalah hal yang layak untuk diperjuangkan jika anda ingin membuat nyaman seseorang.

Menceritakan pengalaman
Ingat, pengalaman, bukan mengenalkan diri anda secara detail. Pengalaman ini bisa disampaikan secara lucu,
"Kemarin waktu tahun baru aku dan teman-teman ke pantai, sangat menyenangkan karena dihibur oleh ulat pohon jati yang menggantung dan berbaris di sepanjang jalan. Ada yang berbaris melintang, membentuk hurus V, zig-zag, sampai ada yang membentu formasi 4-4-2.

Waktu itu aku memilih untuk menunduk supaya bisa menghindari ulat-ulat ini. Nah ada mas-mas lewat dari arah lain membawa kayu diarahkan ke depan gitu kek orang gila. Mas-mas itu seakan memancing temanku yang bonceng untuk berkomentar, eh lha kok benar sekali, dia berkomentar sambil menghadap ke belakang mengejek masnya tadi,"Wahahahaha ngopo mas?!".

Setelah puas mengejek masnya tadi dan aku masih khusuk menunduk untuk menghindari ulat, temanku menoleh ke depan eh entah apa yang terjadi kok dia tiba-tiba misuhi aku dan memukul helmku. Wahahahaha, ternyata dia ciuman sama ulat. Aku cuma tertawa.".

Menyelesaikan masalah
Semua orang pasti punya masalah. Apalagi jika pasangan anda adalah seorang aktivis perkebungan sawit, wah dijamin, buldoser dan om-om kekar adalah masalah yang tak kunjung habis baginya.
Apabila anda lelaki seperti saya, mulailah membuka pembicaraan tentang masalahnya, biarkan dia bercerita sampai tetes terakhir.
Lalu, berilah solusi yang logis dan masuk akal baginya. Jika anda tidak bisa memberikan solusi, maka hiburlah dia dengan poin menceritakan pengalaman di atas, supaya dia lupa kalau punya banyak masalah. Jika tetap tidak bisa, lemparkan batu ke kepalanya supaya dia hilang ingatan.

Diam saja
Karena tak selamanya berdua harus berbicara, toh? Saling pandang dan saling diam adalah cara paling dalam untuk mengenal satu sama lain. Biarkan gestur tubuh memberi pengertian tentang cinta, biarkan tangan anda dan tanganya melakukan tugasnya masing-masing. Grepe-grepe.

Mungkin ini dulu ide yang bisa saya berikan, semoga waktu berdua anda dengan dia tidak hanya habis digunakan untuk membicarakan keburukan orang lain, saling pamer, dan bertengkar terus-menerus. Tapi, masa bodoh. Memang apa peduli saya? Hubungan juga hubungan situ. See ya!

Saat Berdua dengan Dia


Ini logo pertama Sumuurr. Itu aja. Buat apa banyak mulut?




Tertanda


Sumuurr

Logo Sumuurr

Sumber
Kala itu, gue sedang berpura-pura di hadapan seorang wanita. Berpura-pura menjadi sosok yang tersakiti karena cintanya tak sampai di tujuan, berpura-pura menjadi orang paling menyedihkan di dunia. Loh, buat apa?
Bukan apa-apa, kali aja cara ngehek kayak gitu bisa bikin cewek itu memperhatikan gue, merasa kasian, lalu jadian. Kali aja.

Ternyata hipotesa awal gue salah besar. Bukan perhatian yang gue dapatkan, tak lain dan tak bukan hanyalah, "Kok tiba-tiba baper, dik?".

Di derajat itu gue menyadari satu hal, jangan pura-pura tersakiti di hadapan cewek yang mengikuti perkembangan anak muda masa kini. Orang-orang ini, yang mudah terbawa arus ke sana ke sini, menurut gue tidak pantas dicintai. Prinsip hidup saja tidak ada.

Baper sendiri merupakan akronim dari bawa perasaan. Istilah yang gue yakin ada alasannya kenapa Tuhan ciptakan. Layaknya galau, melekat pada diri orang-orang yang gemar menulis status yang berbau cinta seperti gue. Padahal ya tidak ada rasa apapun saat menulis itu, hanya sedang mengimajinasikan Maudy Ayunda tersenyum ke gue, lalu keluar kata-katanya. Sesederhana itu.

Lantas, apa hubungan baper ini dengan kehancuran Indonesia?

Nah kan benar, pasti ada alasan kenapa Tuhan menciptakan istilah baper, ternyata merupakan bentuk peringatan langsung dari Tuhan untuk negera kesayangan kita semua.

Terlampau kuat arus informasi di era internet seperti sekarang. Benar? Ya, benar.

Tentunya makin mudah mendapatkan pengetahuan di dunia ini. Benar? Ya, benar.
Di media sosial, online, mudah sekali ditemukan berita-berita terkini, informasi yang sangat membuka wawasan, mudahnya mencari apapun di zaman seperti sekarang. Benar? Ya, benar.

Loh, kalau begitu hancurnya dimana?

Hipotesa gue begini,
memang hal itu menjadi sangat baik, karena anak muda menjadi lebih mudah mendapatkan informasi. Mengetahui hal-hal baru.

Tapi, sampai sejauh ini gue masih tetap berdoa supaya internet tiba-tiba mati lalu Indonesia kembali berkembang dengan cara yang biasa. Kita ini belum siap.
Belum siap terletak di begitu banyak sumber informasi online yang tidak jelas sumber dan buktinya, begitu banyak orang yang tinggal copy-paste di website mereka tanpa memikirkan akibat apa yang dihasilkan kalau-kalau informasi yang disebarkan ternyata salah, begitu banyaknya pengguna awam internet yang berlipat ganda setiap harinya.

Indonesia sedang mendapatkan bonus demografi, artinya 15-20 tahun ke depan Indonesia memiliki rakyat dalam usia produktif sangat banyak. Artinya lagi, di masa sekarang, yang dimaksud bonus demografi itu adalah gue dan teman-teman gue. Ya, remaja masa sekarang.

Baper timbul bukan tanpa alasan. Suatu istilah bisa meningkat popularitasnya tentu karena memang sedang dialami banyak orang. Berarti benar, bahwa memang remaja sekarang terlampau sering baper. Jika seseorang sedang baper, dia akan kehilangan separuh kesadaran, emosinya meningkat tajam, dan tidak mempedulikan lingkungan sekitar.
Hal ini terlihat jelas ketika banyak sekali remaja yang suka dengan akun-akun horoscope golongan darah, kata-kata bijak, hingga sesuatu yang menyangkut diri mereka.
Ya, mereka suka berbagi bahwa ketika golongan darah mereka O, ternyata mereka lebih mudah terangsang saat melihat kucing. Mereka bangga dengan itu.

Hal ini mengindikasikan bahwa dalam menerima hal dari luar, remaja Indonesia mendahulukan perasaan daripada otak mereka. Kalau saja mendahulukan otak, buat apa coba bangga dengan tulisan horoscope yang bisa dikarang semua orang?
Terlampau banyak status kebencian di akun-akun remaja, komentar-komentar di media sosial seakan mereka paling tahu segala hal, mencaci orang lain yang tidak sepaham dengan mereka, menghina orang lain yang tidak mereka kenal, menebar kebencian di internet.
Hal ini mengindikasikan bahwa remaja Indonesia terlalu sulit mengendalikan emosi mereka, baper, yang menyebabkan kehilangan kesadaran.

Izinkan gue, membuat sebuah garis kecil yang semoga saja tidak ada ketika bapernya remaja Indonesia ini bertemu dengan kemajuan teknologi informasi.
Ya, akan banyak orang tahu banyak hal di negeri kita. Benar atau salahnya belakangan.
Akan banyak orang yang dengan mudah mengatakan asu ke orang yang dia bahkan dia belum kenal, hanya karna berbeda pendapat.
Akan banyak orang yang berdebat dengan argumen masing-masing, meski sama-sama berpijak di argumen yang salah ya masa bodoh, menjadi pemenang adalah segalanya. Musyawarah mufakat sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. 
Akan banyak orang yang mendahulukan perkataan daripada perbuatan, "bacot dulu kalau presiden kita itu bego, kontribusi gue buat Indonesia apa mah belakangan. Yang penting ngebacot dulu."

Dan masih banyak hal lagi yang tidak bisa gue bayangkan. Jika terus berlanjut, apa ada kata lain yang bisa menggambarkan Indonesia selain hancur? See ya!

Baper dan Kehancuran Indonesia

Per 7 November 2015, akselerasi dari pengguna smartphone yang berarti juga pengguna internet yang tentu juga tidak bisa lepas dari pengguna sosial media, semakin meningkat saja. Lihat data yang diambil secara random dari internet di bawah ini:

Sumber
eh salah. Yang benar yang ini:

Sumber
Ya intinya seperti itu, meningkat.
Artinya semakin banyak pula manusia terutama bayi yang berkenalan dengan internet melalui smartphone.
Siklus hidup bayi mulai tahun 2016 mungkin saja berubah seperti

lahir-belajar makan-belajar berjalan-belajar menggunakan smart mobile device-belajar membaca dari alat tadi-bermain game dari alat tadi-menggunakan sosial media-tumbuh menjadi generasi manja-mati dengan doa yang diputar dari smartphone.

Tidak ada yang mau dan bisa memungkiri bahwa smart mobile device memiliki efek candu lumayan besar. Candu di privasi dan data diri orang yang dengan mudah dilihat, candu akan kemampuannya mengimbangi otak manusia, candu karena orang lain juga menggunakan.
Era internet dan smart device adalah kali pertama manusia bisa memiliki lawan main yang seimbang selain manusia lain sepanjang sejarah sejak zaman Nabi Muhammad SAW wafat. Di zaman Nabi mungkin manusia tidak begitu tertarik dengan smartphone, wong laut aja bisa dibelah cuma pakai tongkat.

Bangun tidur cek smartphone, mau makan cek habis makan cek, mau tidur cek, mau eek cek, habis eek cek dulu baru cebok. Gitu-gitu.

Hipotesa gue adalah manusia zaman sekarang sedang kaget dan nggumun kalau dari bahasa jawa. Nggumun itu semacam kaget dan setengah tidak percaya bahwa sesuatu hal bisa terjadi dan disaksikan secara langsung.

Nggumun bagaimana?

Nggumun oh ternyata:
Sekarang semua benda yang terhubung secara tidak terlihat seperti remote TV.
Sekarang baik film, lagu, buku, hingga permainan tamagochi bisa didapatkan dengan mudah dan gratis.
Sekarang, untuk mengetahui kabar doi yang tercinta cukup dengan membuka akun sosial medianya, siapa tahu dia pengguna internet masa kini dan masih norak, lalu lihat saja apa yang sedang dia alami dan unggah di sana. Muncullah gaya hidup stalking yang hukum melakukannya sedang diajukan ke MUI supaya menjadi fardhu 'ain.
Sekarang, berhubungan semua benda di sekitar kita bisa bisa diatur hanya dengan satu alat bahkan hanya dengan suara kita.

Dari ke-nggumun-an di atas, dapat gue pastikan bahwa ada dua objek hubungan manusia yang akan berubah secara perlahan dan pasti. Ya, sesama manusia dan manusia ke benda.

Tahap pencapaian di Indonesia yang baru hangat-hangatnya terletak di sesama manusia.
Sebenarnya manusianya sama, hanya cara menarik satu sama lain yang berbeda.
Waktu gue SD, supaya bisa menarik perhatian lawan jenis harus jadi yang paling jago main petak umpet sama punya nilai matematika 100.
Sekarang di SD, menarik lawan jenis cukup beli gadget dengan merk yang terkenal di kalangannya lalu pamer game terbaru, selfie, dan menanyakan akun facebook.

Sebenarnya manusianya sama, hanya cara mempelajari satu sama lain yang beda.
Zaman SMP, gue harus terjebak di suatu kondisi tertentu bersama doi supaya bisa menjalin hubungan entah terpaksa satu sekolah atau satu bimbingan belajar supaya bisa mempelajari doi secara nyata dan mendetail mulai dari jajanan kesukaan hingga biasanya dia eek berapa lama.
SMP sekarang, entah itu orang dari planet mana, bapaknya siapa, neneknya kera atau manusia, pokoknya asal kelihatan cakep di foto --meski telah melalu proses editing dua puluh kali penyaringan-- ya kenalan aja.

Sebenarnya manusianya sama, hanya cara berinteraksinya yang berbeda.
Di Sosial media, banyak sekali penebar kebencian. Bersembunyi di balik akun yang tidak jelas itu punya siapa lantas menebar kebencian ke sana dan ke sini seperti menebar benih padi.
Presiden dihina, teman disindir, dan tidak lupa mengunggah kalimat sedih teruntuk mantan yang memutuskan hubungan secara sepihak sambil mengucap sumpah serapah.
Di dunia nyata? Kayak kemaluan sapi, bisanya hanya diam. Ya maklum, sering-seringnya cuma copy-paste kok di sosial media itu. Mikir sendiri mana mampu.

Sebenarnya manusianya sama, hanya banyak hal di hidupnya yang menjadi berbeda.

Bukan berarti gue menolak kemajuan teknologi, bukan. Sebagai anak yang mendalami bidang itu, gue mendukung dong, nanti mau kerja apa coba?

Gue cuma mau menulis ini, "Teknologi boleh saja berubah dan mengalami kemajuan, tapi apa manusia yang menggunakannya juga harus berubah tapi malah mundur? Enggak kan?"

Ya, mungkin ini dampak dari nggumun tadi, memang enak kok punya benda yang bisa mengimbangi otak kita. Manusia akan bosan jika sudah mencapai titik tertinggi yang bisa dia bayangkan di kehidupannya. Nah sialnya, teknologi elektronik dan informasi ini mampu dibayangkan sampai ke film-film seperti Terminator, Iron Man, dan sejenisnya.

Oke, bocah seumuran SMP kalau lihat film Iron Man mentok hanya mampu meniru caranya terbang meski tetap berjalan. Tapi berbeda dengan ilmuwan. Ilmuwan terus mencari cara supaya imajinasi itu jadi nyata.
Sekali lagi, Ilmuwan selalu mencari cara supaya imajinasi mereka jadi nyata.

Balik lagi ke nggumun.

Pesan terakhir kali dari gue, nggumun boleh tapi jangan berlebihan. Saudara beruntung membaca blog ini dan mendapat peringatan penting.
Punya gadget ya biasa aja, Tidak perlu dipeluk dan dipegang tiap waktu. Nggak perlu jadi sosok yang sok penting dan paling dibutuhkan di dunia ini hingga harus memantau gadget tiap waktu dan berharap ada panggilan darurat dari pasukan perdamian dunia.
Nggak akan pernah ada orang berpengaruh buat dunia yang muncul hanya karna kecanduan oleh benda buatan orang lain. See ya!

Nggumun Sama Teknologi

Sumber
Dua bulan ini saya tidak menulis sama sekali. Bukan, bukan soal tidak produktif atau bagaimana, ketakutan berada di fakta jika ternyata saya lebih memilih menjadi yang bukan saya inginkan.
Mengejar IPK tinggi, membela golongan dalam kepentingan, mengabaikan kemanusiaan karena ego, mengikuti perkembangan teknologi, menjadi konsumtif, sampai pacaran.

Ya, saya sadar jika menjadi manusia yang seperti itu ternyata memang mengasikkan. Toh memang memuaskkan hasrat puas dalam taraf yang rendah lebih memikat daripada hasrat puas yang lebih tinggi.

Hasrat puas? Sebentar, tolong jangan menghakimi bahwa saya akan membahas hal terkait seks. Jangan begitu, nanti saya tertawakan.

Setelah dihitung dan dipikir, manusia hidup karena tiga hal. Apa saja, bung? Ya, sedang sekolah di dunia, sedang bertahan hidup, berusaha bahagia saat menjalankan dua aktivitas sebelumnya.

Saudara percaya bahwa surga dan nereka itu memang ciptaan Tuhan dan siap melahap masing-masing manusia berdasarkan keputusan Maha Hakim kelak? kemari, kita bisa berpelukan sejenak.
Berarti saudara juga setuju bahwa kita di dunia ini sedang sekolah. Belajar, menaati peraturan, melaksanakan kewajiban, menghindari larangan, berteman, menghadapi ujian, hidup berkelompok, memang apa lagi analogi hidup yang lebih pas selain sekolah?

Tidak pernah ibadah, hidup merugikan, melanggar aturan, tidak punya banyak teman, lantas saat dalam kesusahan bilang kalau sedang diuji. Sekolah nggak pernah kok ikut ujian. Kurang lebih begitu hal yang saya baca di twitter dua tahun lalu, mbuh siapa yang nulis, lupa.

Kemudian bertahan hidup. Tentu saja, masing-masing orang di dunia tidak mau mati mengenaskan sebelum waktunya hanya karna dimakan binatang buas.
Hal ini menjadikan setiap orang selalu berusaha bertahan hidup sampai akhirnya dia sudah tidak mampu lagi melawan keadaan lalu kembali kepada Tuhan.

Maka mulai sekarang saudara tidak perlu khawatir dan menanggung tanggungan semu soal pasangan yang predikatnya masih semu pula. Tidak perlu anda khawatir dia akan sakit jauh di sana, dia lupa makan lalu tumbuh jamur di lambungnya, dia kedinginan saat musim panas lalu hipetermia, dia digigit nyamuk lantas jadi zombie. Tidak perlu. Apalagi sampai menulis di sosial media atau menanyakan kabar ke temannya dengan napas memburu seperti dikejar tsunami. Ya kecuali memang saudara mau terlihat bodoh.

Berusaha bahagia, yang terakhir. Tentu saja, manusia selalu ingin bahagia dengan definisi masing-masing. Entah bahagia karena bisa mencari banyak uang atau karna menolong banyak orang. Kebahagiaanku tidak akan pernah sama dengan kebahagiaanmu di dunia. Gitu.

Saya merumuskan bahwa poin nomor dua dan tiga berhubungan dengan hasrat puas.

Toh, memang manusia itu cuma menuruti kepuasaan masing-masing dalam hidup kan? Jawab, bung, jawab, jangan hanya diam.
Ada yang puas hanya karna mendapat uang, ada yang puas jika bisa meniduri banyak wanita, ada yang puas jika selalu beribadah kepada Tuhan, ada yang puas jika bisa ini-itu-ini lagi-itu lagi-ini lagi lagi dan lagi-itu lagi lagi dan lagi.
Kepuasaan manusia berbeda satu sama lain.

Makannya, mungkin saja, dari posisi yang jauh di sana, Tuhan selalu nyengir ketika menguji manusia terkait puas-tidak puas ini. Kualitas kita, manusia, memang kelihatan jelas lewat hal ini.

Lantas apa masalahnya? Tidak ada masalah di sini, saya hanya ingin pemanasan menulis kok.

Saya hanya mengusulkan untuk menjadi manusia yang taraf puasnya tinggi. Tinggi yang bagaimana? Tinggi ya tinggi, memangnya saya tahu definisi tinggi itu apa? Salah saya kalau situ tidak ngerti definisi tinggi?

Ya tinggi, pokoknya tinggi. Memang seluruh masalah bung, nona bisa selesai dengan uang dalam pelaksanaanya. Tapi saya ragu apakah hal itu tindakan benar. Tuhan jelas-jelas bilang bahwa yang mengurusi urusan orang lain, urusannya akan diurus. Situ mau protes firman Tuhan?

Dari firman yang ini, kita ngerti bahwa kemauan Tuhan adalah jangan menjadi egois. Sahih. Loh, kenapa situ tidak terima dengan sudut pandang saya? Kalau tidak terima, bikin saja blog sendiri, nulis sendiri, bikin sudut pandang sendiri. Jangan repot dan sewot dong.

Lantas hubungan hasrat puas dengan egois apa? Ya gini, ketika kakak adik sekalian, jika hidup hanya untuk mencari uang, jika kuliah hanya mengharapkan gelar dan potensi menjadi orang kaya, jika empati kita terhadap lingkungan hilang hanya karna uang.... Itu egois.
Sementara Tuhan ingin manusia yang tidak egois, berarti kita bisa menyimpulkan hal gila semacam ini, "Ketika situ hanya mencukupi kebutuhan dan kesenengan pribadi, hasrat puas situ rendah, jika hasrat puas rendah bisa jadi kualitasnya rendah juga. Dan sebaliknya.".

Saya tidak menyarankan untuk menjadi mlarat, tadi saya bilang pakai kata hanya yang artinya bung, nona tidak peduli dengan hal lain. Haelah, saya kayak bajingan pemerintahan (dan kampus?) saja, bisanya cuma memainkan kata-kata dan mencari kesalahan diksi. Melakukan hal yang lebih dari itu, otak mereka panas lalu meleleh.

Jadi, gimana? See ya!

Hasrat Puas

Sumber
Anak kecil bukanlah cucian basah. Secara pengertian bahasa, memang bukan. Hehe.

Cucian basah perlu diperas untuk mengurangi kadar air di dalam kain, biar cepat kering walau toh jika tidak diperaspun akan tetap kering. Hanya saja waktunya lama.
Anak? Anak tidak bisa disamakan dengan cucian basah. Sama sekali tidak. Melakukan eksplorasi besar-besaran dengan alasan mengasah bakat sejak dini atau lebih kejam lagi seperti memaksa anak sekolah sejak kecil dan mengikuti program akselerasi supaya dia memiliki masa depan yang cerah di usia muda adalah alasan yang tidak bisa sampai di logika saya.

Picik. Hanya ada satu hal yang terlintas di pikiran saya ketika ada orang tua (biasanya di TV) menjual anaknya dengan bakat tertentu untuk keperluan apapun.

Saya juga bukan orang yang setuju dengan akselerasi pendidikan. Sekali lagi, anak bukan untuk diperas. Di dalam diri seorang anak tidak hanya ada satu fokus seperti ketika memeras cucian. Di cucian hanya terfokus untuk menghilangkan air, di anak? Tidak. Manusia punya banyak hal macam hati, mentalitas, akhlak, dan banyak lagi yang akan menopang kehidupannya. Hidup seseorang tidak akan bisa baik hanya dengan modal otak cerdas.

Dalam hal spesifik macam akselerasi pendidikan, baiklah otaknya lebih maju, yang lain? Sekolah hanya mempercepat proses belajar karna otaknya mampu, tanpa mendidik yang lain sementara lingkungan hidup dia adalah anak akselerasi yang lain. Mereka tumbuh bersama, otaknya meningkat kemampuannya secara bersama tapi yang lain tertinggal. Sekali lagi juga bersama-sama.

Pernyataan di atas, didukung oleh kenyataan bahwa yang mempengaruhi sudut pandang, misalnya, adalah apa yang sudah dia dapat. Orang akan berpikir sempit bahwa Indonesia adalah negara terbelakang siap bubar karena media yang selalu (mengejar rating dengan cara) memberitakan hal buruk macam kejahatan dan fakta memilukan negara ini, presidennya menaikkan harga BBM, hingga karena anggota DPR maling duit 11,2 triliun.
Beda lagi dengan orang yang sudah berkeliling Indonesia, yang sudah pernah berkunjung ke seluruh kota di Indonesia, yang sudah melihat langsung keindahan di dalamnya, yang mengetahui budayanya, yang merasakan enak makanannya, hingga yang dibalas senyumnya oleh masyarakat di sana. Pikiran orang ini akan lebih luas. Dia tahu Indonesia hanya belum bangun.

Anak yang dirampas masa hidupnya lelah untuk sekolah dan mengerjakan tugas melulu, ya hanya itu yang dia dapat. Padahal usia anak-anak itu paling cepat meniru sesuatu. Piye, bung?
Itu baru masalah sudut pandang. Hal yang didapat manusia akan mempengaruhi semua yang ada dalam hidupnya. Mentalitas, akhlak, nalar, dan mbuh banyak. Bayangkan jika seorang manusia semua fondasi hidupnya hanya dibentuk dari dunia sekolah atau fokus bidang tertentu. Generasi pekerja yang hanya bisa disuruh-suruh dan cacat pikir, bersiap muncul di suatu periode bangsa ini.

Anak yang sejak umur balita dipaksa belajar membaca, berhitung, les ini les itu, kursus ini itu, pokoknya belajar di suatu instansi supaya hidupnya nanti tidak susah itu tidak salah, yang salah adalah merampas waktu bermainnya. Anak yang seharusnya berlari untuk bersembunyi kala temannya berjaga malah harus sekolah sampai sore atau harus kursus untuk melatih bakatnya seharian, sampai di rumah lelah, tidur, besok begitu lagi. Hanya demi masa depan lebih baik? Saya tidak memungkiri bahwa status sosial akan naik jika sekolah tinggi atau ahli di suatu bidang sejak usia muda, tidak.

Tapi bayangkan berapa banyak memori yang dipaksa hilang karena terlewatkan, berapa banyak tawa, berapa banyak senda gurau bersama teman yang hilang. Lebih parah adalah perilaku apatis ketika dewasa nanti karena rendahnya kepekaan terhadap dunia luar. Hasilnya? Sepintar apapun anak tadi, dia tidak akan jadi hal berguna. Peka saja tidak, bagaimana mau membantu Indonesia.
Ini bukan masalah besar kok, wahai orang tua yang ingin anaknya cerdas, hanya saja masa-masa dimana si anak bermain dan bahagia yang tidak bisa diulang harus hilang karena belajar sesuatu yang bisa dia lakukan di suatu waktu yang lain.

Tujuan kalian sudah tercapai, anak yang kalian lahirkan menjadi sosok yang cerdas otaknya dan hanya tidak memiliki hal-hal tidak penting macam mentalitas, akhlak, hati, sudut pandang yang yes dan yoi, atau apapun yang sudah saya tulis di atas.
Saya bukan bermaksud menggurui atau bagaimana. Saya hanya ingin mengemukakan opini. Toh juga hal-hal yang penting itu adalah IPK tinggi, cerdas, bekerja (untuk orang lain), dan kaya. Hal-hal macam habbluminallah itu tidak penting, benar kan? Akhlak, mentalitas, sudut pandang yang benar itu juga tidak penting.

Misal ya, misal. Bukan bermaksud menggurui sekali lagi, saya hanya ingin bercerita gambaran orang yang mentalitasnya buruk. Ada kasus, dimana suatu kejadian salah dilakukan, orang yang mentalitasnya buruk akan menyesal melakukan hal tadi dan cenderung menjauhinya sebisa mungkin, sementara yang mentalitasnya baik tentu saja akan belajar dari kesalahan dan masih mau melakukan lagi dengan benar. Tidak jauh beda kan? Makannya mentalitas itu tidak penting. Yang penting cerdas dan berbakat. Sip!

Saya hanya ingin memberi saran, anak-anak harus bermain. Mereka harus melakukan apa yang mereka suka. Tidak perlulah diburu-buru untuk sekolah, sekolahnya dipercepat, atau dikursuskan apapun hanya demi melatih bakatnya.

Kenapa? Karena meningkatkan apa yang ada di otak itu gampang. Sekali lagi, yang paling gampang adalah meningkatkan apa yang ada di otak daripada hal lain.

Tawa, tangis, main layang-layang, main boneka, petak umpet, hujan-hujan bersama teman, dilempari telur oleh teman saat ulang tahun, hingga rasanya sakit hati karena ditolak akan susah diperoleh jika waktu sekolah dipercepat dan atau menghilangkan masa kecil untuk hal berbau pendidikan. Belajar kalkulus, programming, atau melatih bakat macam main biola, main piano itu semuanya bisa dikebut dalam waktu beberapa hari. Sedangkan akhlak, mentalitas, hingga nalar misalnya lebih butuh waktu lama dan pelajaran langsung dari kehidupan. Itu saja. See ya!

Biarkan Anak Bermain!

Sumber
Saya harus berusaha paham dengan apa yang sebenarnya dicari dalam hidup ini. Satu alasan utama adalah biar keberadaan saya itu diinginkan dan berguna.
Dewasa ini saya mulai mengerti bahwa saya berada dalam jalan yang benar perkara belajar. Tentu saja saya selalu benar, apa lo?!

Dulu, dulu sekali saat saya masih berpikiran bahwa titit hanya bisa digunakan untuk pipis, bagi saya orang yang serba bisa itu keren.
Namun seiring banyak pembelajaran yang didapat, saya mulai ngerti bahwa ada fungsi turunan dari pipis yang tidak kalah penting.
Nah sejak saya ngerti fungsi turunan pipis, anggapan saya mulai bergeser ke arah bahwa orang serba bisa belum tentu keren, yang keren adalah orang yang bisa belajar hal baru dengan cepat. Wuih.

Hingga sekarang konsep itu terpegang kokoh seperti memegang dada teman. Akibatnya saya menjadi suka mencoba hal baru dengan tujuan yang tidak lain dan tidak bukan adalah mengukur seberapa cepat memahami polanya.
Tapi bukan hal ini yang ingin saya angkat di tulisan kali ini. Hehe.

Beberapa hari lalu mama bilang ada remaja lelaki yang bunuh diri dengan cara adu kuat dengan kereta api. Perlu tak kasih tahu yang menang siapa? Tidak perlu toh?
Sontak saya penasaran dan ingin mengetahui sebab kenapa ada orang yang mau bunuh diri, pastinya adalah masalah penting selevel paksaan kaum ISIS untuk pindah agama.
Mama melanjutkan cerita bahwa lelaki itu bunuh diri karena putus dengan pacarnya. Untung saya langsung mampu mengendalikan emosi dan tidak bilang goblok di depan mama sendiri.

Cerita tidak berhenti sampai di situ. Lelaki itu ternyata mengirim sms ke mantannya kurang lebih begini, "Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, lebih baik aku bunuh diri.", mungkin habis pesan sms itu terkirim dia langsung nyundul gerbong kereta api. Mungkin lho ya.
Saya tidak bisa menahan tawa masalah sms itu. Maaf.

Padahal, saya yakin seyakin-yakinnya, masalah yang dihadapi lelaki dan mantannya itu tidak sekompleks hubungan percintaan saya. Yakin wis. Tidak ada yang lebih kompleks dari jomblo yang ditolak berkali-kali.
Saya juga yakin logika keduanya terlalu jauh untuk memahami arti kata solusi. Di saat teman-teman saya berbondong-bondong menang lomba, masih ada saja yang belum mengerti bahwa hal penting dalam menjalin hubungan adalah komunikasi. Padahal solusi dari masalah dalam hubungan tidak akan didapat dengan diam saja, apalagi curhat ke teman. Bah!

Bicara masalah solusi, saya jadi berpikir soal orang-orang yang mengeluh hidupnya susah. Soal orang-orang yang malah kerap menyalahkan takdir karena hidupnya berat.
Bahkan mereka tidak kenal siapa takdir, tapi sudah berani menyalahkan.

Hal ini membuat saya memandang ke orang-orang yang hidupnya selalu kelihatan ceria dan enjoy. Setelah sedikit memperhatikan, singkat cerita, saya mendapatkan rumusan seperti ini,

Tuhan menolongmu lewat solusi dari masalahmu, bukan Tuhan yang memberi solusi dari masalahmu.

Kalimat di atas kemudian didukung oleh keberadaan otak manusia. Itu lho kenapa manusia diberi pikiran, ya biar mikir solusi ketika ada masalah karena Tuhan akan memberi bantuan lewat solusi dari masalah tadi.
Perhatikan saja orang yang tidak mau mikir solusi dari masalahnya sendiri, yang suka curhat dan minta saran ke orang lain, yang hmm pokoknya. Hidupnya berat seakan Tuhan sengaja membuat mereka kesusahan.

Belum lagi pernyataan bahwa Tuhan suka orang yang beriman dan berilmu.
Apa toh susahnya belajar? Susahnya berwawasan luas dan mencoba hal baru? Itu menyenangkan lho bagi saya. Belum pernah camping? Ya camping. Tidak bisa renang? Ya renang aja.
Jomblo? Oh oke, yang ini diterima saja.

Dengan mencoba banyak hal, saya yakin solusi yang bisa dihasilkan dari suatu masalah tidak begitu memalukan.

Misalnya ya, saya tanggal satu diberi uang kiriman sejuta eh tanggal tujuh tinggal sedikit, literally. Hehe. Itu kan masalah toh? Sekarang tinggal bagaimana caranya kita minta uang ke Tuhan, karna kalau minta uang ke mama bukannya uang yang didapat tapi digorok ndasku.

Baiklah waktunya mikir, kalau keadaan seperti ini apa yang harus dilakukan. Bagaimana dengan pulang ke rumah? Kalau dilihat-lihat ternyata libur seminggu sebelum uas mulai tanggal sembilan dan rumah ada di Solo, yang artinya memungkinkan untuk pulang dari Jogja. Nanti di rumah bilang saja uangnya buat sedekah, itupun kalau ditanya kalau tidak ya diam saja. Selesai!

Eits, bagaimana kalau rumahnya jauh? Hmmm. Oh saya pernah mencari dana buat acara konser dengan cara menjual bunga seharga 10000 padahal hanya membeli 3000.
Nah, baiklah tinggal beli bunga dengan sisa uang yang ada lalu berjualan setiap malam. Selesai!

Itu adalah dua solusi terbaik bagi saya daripada harus membusuk di kamar kos karena kelaparan atau terpaksa minta uang kiriman tapi malah digorok kepalanya.

Rasanya, ini juga menjawab kenapa kehidupan orang-orang pintar lebih asik dan menyenangkan. Ya tentu saja karena mereka paham bahwa bantuan Tuhan datang dari solusi.
Tuhan Maha Asik dan Baik, ya toh? See ya!

Minta Bantuan Tuhan

Sumber
Bicara masalah agama tidaklah mudah, tapi bagi saya tetap tidak seruwet bicara masalah cinta. Apalagi bicara tentang orang-orang yang ketika punya masalah dengan pasangannya malah mencari solusi ke orang lain atau mungkin dengan kata yang lebih sederhana, bicara tentang kebodohan.

Saya masih heran dimana letak kewarasan orang-orang yang saat punya masalah dengan orang apalagi orang yang dia cinta eh malah curhat ke orang lain, bukannya bicara ke orang bersangkutan. Padahal solusi itu opini, opini adalah sudut pandang. Mana bisa solusi yang diharapkan orang bersangkutan sama dengan solusi dari orang yang dicurhati. Sungguh mereka adalah orang lemah pikir yang sebenar-benarnya.

Kita sedang berada di zaman penuh retorika,  maka jangan heran jika saudara/i menemukan berbagai kasus pengafiran yang dilakukan oleh orang yang menggap dirinya paling suci dan jelas masuk surga. Maka jangan heran jika saudara/i masuk ke lingkungan dimana bungkus lebih pantas dijadikan indikator sesuatu menjadi baik atau buruk daripada isi dari bungkus tersebut. Semua itu ada, hanya dengan modal bacot semata.

Oh, preman dan bajingan yang suka mabuk dan merokok itu buruk. Entah mereka adalah aktivis lingkungan yang dengan yes dan yoi melawan pembunuh bayaran pemilik ladang sawit, yang dengan yes dan yoi santai-santai saja hidupnya meski diancam kematian demi memperjuangkan kehidupan masyarakat sekitar atau entah mereka menjadi orang yang sudah tidak peduli dengan diri sendiri, menjadi orang yang pokoknya memperjuangkan kebaikan rakyat kecil, entah apapun itu....

Pokoknya pemabuk dan perokok itu bangsat. Benar toh?

Pokoknya pemakai gamis itu ahli surga gitu, kan? Ya gitu.

Tapi bukan hanya itu yang membuat saya heran dengan tingkah dan perkataan manusia kekinian. Gagap pikir ternyata juga menjangkit wanita yang mendadak berhijab dan menjadi aneh dengan alasan ingin tobat. Ya, tobat.

Tobat itu apa toh, nona?

to·bat 1 v sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yg salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan.

Itu adalah pengertian dari kamus. Cukup, saya rasa cukup dari kamus saja pengertiannya.
Tobat itu sadar. Artinya tobat adalah bangkit dari ketidaksadaran.

Sek to sebentar, ini bukannya saya tidak setuju dengan tindakan berhijab yang dilakukan oleh ukhti-ukhti ini lho ya. Saya hanya tidak setuju saja, berdalih tobat lalu berhijab, tapi sifat buruknya masih ketinggalan dan kadang bertambah. Saran saya, mending tidak usah bertobat. Bikin malu tatanan dunia islam. Ngerti?

Apalagi berhijab hanya demi mengikuti tren, bah!

Tobat adalah menyesal akan dosa-dosa yang diperbuat dan berjanji tidak akan mengulanginya lalu berbuat baik seterusnya. Ini adalah pengertian yang sangat jelas bahkan lebih jelas daripada muka teman saya yang bernama Amal.
Saya pernah mendengar ceramah di radio, ciri utama tobat yang berhasil adalah perubahan akhlak. Akhlaknya jadi baik.

Tidak tahu akhlak itu apa? Ini, saya berikan pengertiannya,
 akh·lak n budi pekerti; kelakuan.

Akhlak adalah kelakuan. Loh akhlak yang jadi baik itu bagaimana? Begini, bung/nona, akhlak yang jadi baik itu bukan berarti saudara/i tiba-tiba benci antek asing, tiba-tiba tiap ngomong berbahasa arab, atau tiba-tiba menggunakan cadar.
Padahal saudara lelaki. Bukan, bukan seperti itu,

Terlebih, kata mbah Gus Dur, “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya arab. Bukan untuk....
Aku jadi ana, sampeyan jadi antum, atau sedulur jadi akhi. Kita pertahankan milik kita, kita harus filtrasi ajarannya, tapi bukan budayanya.”
Itu mbah Gus Dur lho, mantan presiden idolaku. Hanya saja kebodohan kala itu membuatnya tidak bisa membantu Indonesia dalam porsi yang banyak.

Wis to, tidak perlu tanya saya dapat data dari mana. Nanti situ bisa gila.

Oya, jangan pernah anti antek asing apabila saudara/i tidak bisa bikin segala sesuatu yang dibikin antek asing. Bukan apa-apa, takutnya situ kelihatan memalukan.

Akhlak yang baik adalah yang dulunya kalau masuk rumah tidak pernah sungkem ke orang tua sekarang jadi sungkem, yang dulunya kalau lihat orang kesusahan hanya diam sekarang jadi membantu, yang dulunya suka membicarakan keburukan teman sekarang memilih diam saja, yang dulunya males ibadah sekarang jadi rajin tanpa perlu diumbar ke orang lain, yang dulunya malas belajar sekarang jadi rajin, yang dulunya suka mbokep sekarang jadi suka mengkaji Firman Allah.
Itu tobat, bukannya menjadi anti sosial karena teman-temannya dianggap brengsek demi kebaikan diri sendiri, bukan mengutamakan sunnah tapi yang wajib berantakan, dan bukan meributkan hal kecil dan saling lempar dalil, padahal hal itu jika ketemu solusinya tidak begitu berpengaruh.

Ya, baik, tobat bisa dimulai dari menggunakan hijab untuk menutupi aurat. Saya setuju karena rambut nona itu juga aurat tapi plis susunya jangan ditonjolin.
Tapi plis, jangan menggunakan pakaian ketat. Tapi plis jangan rangkulan sama pacarnya, tapi plis jangan membantah saat orang tua menasehati.
Apa memang nona sedang berusaha menguji kesabaran Tuhan? Atau bagaimana?
Terserah perkara berhijab atau tidak tapi sebenarnya saya tidak peduli, hanya saja dalih tobat ini yang bikin geli.

Tobat itu biar baik, biar damai.

Lha apa bisa to nona berkata sudah tobat tapi masih demen gosip? Suka mendeklarasikan anti pacaran karena menjerumuskan ke zina tapi mulutnya membicarakan keburukan orang. Gitu?

Apa bisa nona berkata tobat tapi hatinya masih busuk karena tidak suka bercanda? Pikirannya serius terus?

Apa bisa nona damai kalau masih iri dengan yang lain? Apa bisa menjadi damai jika malah menolak segala bentuk sosialisasi?
Percaya saya, mending lepas jilbab lalu jadi penari ular. See ya!

Tobat

Sumber
Beberapa waktu lalu, menteri kesayangan saya berkicau di twitter yang bunyinya begini, "Saya dapat kabar 5T untk saya walk away. Nilai yg sangat banyak. Saya bangga tarif untuk seorang lulusan SMP begitu mahal," Beliau menulis tweet seperti itu hari Rabu tanggal 13 Mei.

Ada beberapa keheranan dalam diri ini.
Pertama, dengan uang 5 triliun Bu Susi bisa beli satu jet pribadi lalu memakainya memutari dunia sebanyak lima kali, itupun sisa.
Sisanya masih cukup untuk membeli ramen guna mengisi sebuah kolam renang berstandar internasional secara penuh.
Heran saya, kenapa beliau menolak begitu saja.

Kedua, yang memberi adalah anonim. Logikanya, tidak akan mencoreng nama seorang Susi Pudjiastuti sebenarnya jika turun dari jabatan menteri, lalu melakukan bungee jumping di puncak gunung merapi. Tapi sayang, Bu Susi terlanjut ngetweet. Semua orang jadi tahu.
Sekarang, jika Bu Susi turun dari jabatan menteri secara mendadak wah tentu sudah, opini masyarakat akan jatuh di kesimpulan bahwa beliau mendapat uang imbalan.

Ketiga, Bu Susi hanya lulusan SMP. Sebenarnya ini adalah keheranan yang paling mendesak bagi saya. Beliau hanya lulusan SMP, pernah merokok ketika pelantikan menteri dan memancing munculnya banyak haters, sekarang beliau punya kesempatan menikmati masa tua dengan jumlah uang yang pasti bisa menggoncang iman segala jenis manusia di dunia. Tapi ditolak.

Pada akhirnya, saya hanya bisa berkomentar di blog ini tanpa bisa membuat seorang Susi Pudjiastuti berubah pikiran dan menerima uang 5 T tadi.
Di sini saya hanya bisa berterima kasih. Bukan, bukan kepada Bu Susi. Sudah terlampau banyak ucapan terima kasih saya kepada Bu Susi di setiap tenggelamanya kapal asing yang mancing di laut Indonesia.

Terima kasih kali ini saya tujukan kepada Pak Jokowi. Terima kasih, Pak Presiden. Dengan segala hormat dan tegas saya ingin berterima kasih apabila di masa yang akan datang Bu Susi tetap menjadi seorang menteri hingga masa jabatan beliau selesai.
Terima kasih karena setidaknya --ya walau pemerintah sekarang terlihat sedikit menyebalkan-- saya tidak salah pilih ketika pemilu kemarin.
Bapak menunjukkan kemauan yang yes dan yoi dalam rangka mengajari negara setengah surga ini cara berdiri yang baik dan benar.

Masalah isu BBM yang naik turun, urusan Polri dan KPK dulu, internet cepat yang lama sekali terealisasi, hingga kenapa saya belum bisa berpacaran dengan Maudy Ayunda, bolehlah dikesampingkan dulu.
Di lain sisi mengenai hukuman mati. Saya tahu putusan hukuman mati kepada anak-anak pengedar narkoba jatuh saat era presiden sebelumnya, tapi saya masih kecewa saja kenapa bapak tidak membatalkan eksekusi kepada ibu dua anak yang menurut saya tidak pantas diakhiri hidupnya.

Bicara masalah narkoba memang panjang pak, harus ada kata ahli, hasil penelitian, dan banyak hal. Tapi yang saya tahu hanya satu, orang setuju memakai narkoba itu karena mumet ndase, karena tidak punya uang, dan tentu saja karena bodoh.
Jauh, jauh sekali jika saya berharap masyarakat Indonesia bisa kaya dan pinter semua dan saya lagi tidak mood untuk menjelek-jelekkan pemerintah saat ini, mungkin lain waktu. Tapi tetap saja hukuman mati bukan keadilan terlebih di negara yang jaksa dan pengadilnya masih suka dengan uang. Terlebih di negara yang pesakitan seperti Indonesia.

Kalau boleh usul, saya mau usul hukuman yang lama saja tanpa mencabut nyawa seseorang. Hukuman ratusan tahun lebih terdengar menyiksa dan mengancam bagi kami dibandingkan hukuman mati yang dengan mudah mengakhiri penderitaan orang miskin dan bodoh seperti kami.

Bapak sedikit-banyak berhasil menjadi sebuah antitesis. Tindak-tanduk lembut khas Solo dan prinsip hemat yang berusaha bapak sajikan adalah deskripsi nyata bagi saya.
Saya tidak akan pernah lupa dengan pemilu tahun lalu, pemilu pertama saya, dimana saya yang semasa bocah mempunya prinsip golput saja daripada memilih bajingan, berubah menjadi lebih baik memilih daripada rela begitu saja bajingan berkuasa.

Kala itu saya menonton TV, beberapa stasiun swasta menampilkan penampakan konser di GBK.


Bapak ingat konser itu?

Bapak tahu tidak ada berapa ratus ribu orang di sana? Apa bapak sempat menghitung? Saya tidak sempat, tapi yang saya tahu di sana sangat banyak orang.
Yang saya pahami adalah ratusan ribu orang itu datang tanpa dibayar. Alah mana mungkin seorang mantan tukang mebel, mantan walikota, dan mantan gubernur yang tidak memiliki dukungan partai-partai besar bisa membayar segitu banyak orang.

Yang saya pahami adalah tidak ada bendera partai di sana, yang ada hanya bendera slank karna memang bendera ini wajib ada di setiap konser.
Asal tahu saja, mereka semua mendukung bapak. Ya, relawan dan orang yang sebenarnya hanya ikut-ikutan tanpa mengerti siapa Jokowi itu mendukung panjenengan.

Di sini adalah alasan terbesar kenapa saya ingin sekali lagi berterima kasih.
Terima kasih telah menjadikan beberapa orang Indonesia seperti saya melek alias terbuka matanya. Karena seorang Jokowi, mungkin pemilu-pemilu di masa yang akan datang tidak lagi didominasi oleh orang yang punya banyak channel TV, tidak akan didominasi orang-orang yang tegas dan cenderung menakutkan, tidak didominasi oleh orang-orang yang asal modal besar pasti menang.

Tidak, saya yakin tidak. Karena seorang Jokowi, pemilu akan dimenangkan oleh orang yang mendapat dukungan rakyat, orang yang benar-benar serius mendidik bumi pertiwi (Bukan nama Taman Kanak-kanak). Seorang yang nantinya akan menjadi pemimpin adalah mereka yang punya people power, ya toh pak?

Dan tak lupa, saya ingin berterima kasih untuk pemilihan Bu Susi. Meski perokok dan hanya lulusan SMP, saya tahu kok seorang Jokowi tidak begitu peduli sama ijazah dan IPK menterinya. Yoi.

Bapak ingin menang lagi tidak di pemilu 2019? Atau bapak ingin tahu kemana people power akan jatuh? Ke seorang Jokowi atau Ahok? Atau nama lain?
Begini pak, semua itu ditentukan oleh apa yang Pak Jokowi dan Koh Ahok lakukan selama menjadi presiden dan gubernur. Gitu. See ya!

Menteri 5 Triliun