Timing

Sumber
Di dunia ini ada yang namanya momentum.
Dalam dunia anak fisika momentum memiliki rumus dan pengertian.

p = m x v.

p untuk momentum, m untuk massa benda, dan v untuk kecepatan benda.
Jadi momentum adalah hasil kali antara massa dan kecepatan. Setelah itu, sering muncul ucapan, "Momentumnya kurang pas." ketika gue nembak cewek kesayangan gue saat dia positif hamil oleh cowok lain.

Jika dibedah lagi kecepatan adalah jarak dibagi waktu. Berarti momentum berbanding lurus dengan massa dan jarak tapi berbanding terbalik dengan waktu.
Lupakan massa dan jarak karena itu pribadi masing-masing benda punya ciri khas sendiri, yang penting adalah yang dialami oleh semua benda, waktu.
Loh, artinya semakin besar waktu maka momentumnya semakin kecil dan sebaliknya. Di luar dunia anak fisika untuk mendapatkan suatu momentum yang hebat artinya harus melakukan suatu hal dalam rentang waktu yang kecil.

Rentang waktu itu yang akan kita panggil timing di tulisan ini.

Sederhananya timing harus benar jika ingin sesuatu berjalan dengan benar. Gue pernah dulu melakukan kesepakatan sakral dengan nyokap masalah hape yang terakhir kali gue minta dari beliau. Dalam kesepakatan itu berbunyi bahwa hape akan dibeli saat gue sudah pasti kuliah dimana.
Tapi nafsu berkata lain, gue beli bahkan masih di semester satu kelas tiga.

Terus kenapa? Ya begini, dengan jumlah uang yang sama gue bisa dapat hape dengan kemampuan lebih macho. Gitu.

Lihat Ronaldo, dia bisa mencetak ratusan gol selama karirnya cuma karena timing yang pas. Dia bisa terkenal dan kaya cuma karna timing. Mana bisa Ronaldo terus-terusan nyundul bola dan gol? Kan kalau dia lompat duluan bolanya belum datang, kalau lompat telat bolanya sudah lewat. Hayo. Itu bukan karena kebetulan tapi memang dia paham polanya.
Tapi sayangnya timing untuk seorang pemain bola harus diikuti oleh stamina, kecepatan, kekuatan, kemauan, rasa tidak mau kalah, dan dukungan dari pemain lain. Tanpa itu nggak akan ada timing yang pas.

Manusia sendiri mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Sementara tumbuh dan berkembang itu pasti terjadi di dalam waktu. Waktu mencegah terjadinya keabadian, jadi kalau bung/nona bisa keluar dari waktu maka akan memperoleh keabadian. Enak to?

Pertumbuhan dan perkembangan yang menjadi fokus di tulisan ini adalah otak dan mentalitas. Mentalitas sendiri menurut KBBI adalah

men·ta·li·tas /méntalitas/ n keadaan dan aktivitas jiwa (batin), cara berpikir, dan berperasaan: faktor -- merupakan faktor penentu dl pembangunan

Jadi, jika mentalitasnya baik semua yang dilakukan orang tadi lebih condong ke hal baik dan benar begitu juga sebaliknya.
Hipotesa kali ini adalah naik-turunnya mentalitas dipengaruhi oleh timing.

Hipotesa kedua, ternyata kebiasaan manusia itu adalah sumber belajarnya. Jika ada hal yang bisa membantu dia sekali, maka di masalah kedua dia akan datang ke bantuan itu lagi. Seterusnya sampai dia merasa bantuan itu tidak berguna.
Google adalah bantuan.

Kasusnya begini, ada dua orang, yang pertama sudah mendapatkan gadget sejak balita. Umur enam tahun dia sudah bisa menggunakan search engine untuk mencari sesuatu.
Saat masuk SD dia menjadi paling hebat di antara teman-temannya, bagaimana tidak wong dia bisa mencari semua jawaban tugas dan belajar dari internet.

SMP masih senada, dia tumbuh dengan didikan internet dan segala sumber daya pengetahuan yang tiada henti. Ada pertanyaan ini-itu, googling aja pasti terjawab.

SMA tidak berbeda jauh. Kliping, makalah, tugas apapun tinggal googling dan pasti mendapatkan jawaban tanpa harus mikir panjang.

Untuk orang pertama, yang dia tahu sejak kecil adalah semuanya bisa dicari di google. Kesalahan dia adalah tidak sadar bahwa ada saat dimana manusia harus menggabungkan beberapa ilmu untuk membuat sesuatu. Lalu bagaimana jika apa yang dia butuhkan tidak ditemukan di google? Yap, dia bingung.
Dia terlanjur memiliki cara berpikir bahwa google memberi tahu semuanya. Maka ketika dia harus mencari tahu sendiri atau bahkan untuk sekedar mengarang saja dia akan kebingungan. Mungkin dia juga tidak bisa membawakan suatu informasi dengan cara dia sendiri.

Lalu yang kedua, dia lahir di pertengahan zaman orde baru. Saat dunia digital mulai berkembang dia tidak akan siap dengan semua itu.
Hasilnya apa? Yap, gagap teknologi. Dia mendengar orang-orang membicarakan google, sosial media, internet of everything, bla-bla-bla.
Dia akan berusaha masuk. Biasanya, manusia selalu berusaha memasuki main stream supaya tidak dianggap aneh.
Akhirnya dia masuk di dunia maya. Muncul deh Farhat Abbas.

Bagaimana jika hipotesa gue benar mengingat bahwa tulisan gue ini berasal dari pengamatan di lingkungan gue?
Andai benar, berarti tulisan ini akan berlanjut dengan solusi karena dua kasus di atas adalah contoh timing yang salah masalah teknologi digital.

Solusi dari kasus ini dan semua kasus lain adalah penempatan di umur yang tepat.
Anak umur 14 tahun yang sudah diberi izin naik kendaraan bermotor dengan anak umur 17 tahun yang baru diberi izin lebih besar mana probabilitas kecelakaannya?
Ya tentu anak 14 tahun, karena dia berkendara lebih awal. Tapi kan berkendara bukan masalah cari pengalaman, ya kalau kecelakaan cuma bikin lecet nah kalau bikin satu sel otaknya copot lalu gila bagaimana?

Selisih tiga tahun memang, tapi apa ruginya sih wahai para orang tua? Anak 17 tahun lebih paham arti untuk tetap hidup karena orang tua menunggu dia di rumah dibanding anak 14 tahun yang diajak balapan temannya langsung mau.
Mentalitas adalah kesadaran tentang lingkungan, kesadaran tentang posisi dan tanggung jawab dia sebagai manusia, mentalitas adalah kesadaran. Bocah di bawah umur 17 tahun bahkan nggak paham bagaimana konsep sadar.

Pun gadget. Semampu apapun gue memberi gadget kepada anak gue nantinya tetap saja dia disuruh mikir manual dulu. Dia harus tahu bagaimana cara bercerita dan mikir tanpa sumber daya pengetahuan di internet.
Supaya dia tahu susahnya berpikir jadi nggak gampang menghina opini orang, jadi dia tahu mana yang bodoh mana yang tidak, jadi dia bisa merespon sesuatu dengan baik.

Semoga anak bung/nona juga seperti itu. See ya!

G+

Tidak ada komentar

Silakan tulis sesuka lo dan kalau gue nggak suka ya gue hapus sesuka gue.